Sunday
Sejarah Pura Goa Raja Besakih
“Mereka bertemu di Pura Goa Raja untuk merencanakan dan menjaga Bali,” tuturnya yang mengaku ungkapannya itu didasarkan atas sumber-sumber tertulis sastra-agama Hindu dan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat.
Dalam lontar “Kusuma Dewa” diungkapkan tentang keberadaan Batara di Buwana Agung (jagatraya) yakni Gunung Mahameru (Gunung Agung), gunung tertinggi di Bali puncaknya menggapai angkasa, pangkal dasarnya menembus tujuh lapisan bumi (Sapta Patala).
“Tempat itulah merupakan lokasi pertemuan para Dewata menciptakan baik (ayu) dan buruk (ala) menjaga jagat raya Pulau Bali. Oleh sebab itu jika Pura Besakih baik, Bali akan aman, tentram, damai dan sejahtera,” tutur Mangku Pande Made Satra.
Leluhur masyarakat Bali dimasa lampau memahami kenyataan alam semesta sebagai anugrah yang wajib disyukuri karena telah memberikan kerahayuan, keselamatan dan kesejahteraan umat manusia.
Hingga kini masyarakat Bali tidak henti-hentinya mewujudkan rasa bakti dan puji syukurnya kehadapan Tuhan Yang Maha Esa melalui upacara keagamaan baik di Pura Besakih maupun di lambung Gunung Agung, dengan harapan masyarakat Pulau Dewata selalu menemui keselamatan dan kedamaian.
Rsi Markandya pada tahun 111 saka (189 masehi) menanam “Pancadhatu” di komplek Pura Besakih hingga kini memberikan pelajaran berharga dan amat penting bagi masyarakat setempat.
“Amat keliru bila mengabaikan Pura Besakih, termasuk Pura Goa Raja, karena dari situlah pusat kerahayuan, keselamatan dan kesejahteraan jagad Bali,” ungkap I Wayan Surpha, mantan Sekjen Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) pusat, majelis tertinggi umat Hindu.
Perbaikan secara total terhadap Pura Goa Raja telah dilakukan tahun 2002 atau pemugaran yang ketiga dilakukan menyusul meletusnya Gunung Agung tahun 1917, yang kemudian meletus lagi tahun 1963.
Sejarah
Pura Besakih dari segi historis terungkap melalui prasasti Purana dan lontar menerangkan, sebagai tempat beristananya para Dewa yang dimuliakan masyarakat Bali, sekaligus mempunyai arti penting bagi kehidupan keagamaan umat Hindu.
Mempunyai fungsi paling penting diantara pura-pura lainnya yang ada. Tempat suci itu memiliki peranan dan fungsi yang istimewa, antara lain sebagai Pura “Rwa Bhineda”, “Sad Kahyangan”, “Padma Bhuana” dan pusat dari segala kegiatan upacara keagamaan.
Perhatian terhadap pura Besakih dimulai dari pemerintahan Raja Sri Udayana Warmadewa (tahun 1007), hingga pemerintahan Raja-raja keturunan Sri Kresna Kepakisan (tahun 1444 dan 1454 Masehi).
Perhatian besar sang raja itu, dilanjutkan pada zaman penjajahan Belanda di Indonesia, yang menaruh perhatian cukup besar, diwujudkan dengan mengadakan restorasi secara besar-besaran terhadap beberapa komplek bangunan suci yang rusak akibat bencana alam.
Setelah Indonesia merdeka, pemerintah melakukan perbaikan terhadap beberapa bangunan fisik yang rusak, sekaligus menggelar rangkaian upacara keagamaan.
Sejak tahun 1967, Pemprop Bali menyerahkan pengawasan dan pemeliharaan Pura Besakih kepada Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), majelis tertinggi umat Hindu yang kemudian dimandatkan kepada “Prawartaka” Pura Besakih.
Namun, dalam kenyataannya Pemprop Bali bersama delapan Pemkab dan Pemkot secara bergotong royong memperbaiki bangunan yang rusak maupun mendukung pelaksanaan upacara keagamaan, selain peranserta masyarakat luas secara aktif.
Jalan jalan murah di Bali, liburan murah di Bali,
paket wisata murah, tour murah di Bali
Hubungi kami :
Timbul Bhuana Tours
Lisence No. : 551.21/1210/KPPT
Jalan Kapten Sujana No. 1 Blahbatuh-Gianyar-Bali-80581
Email : timbulbhuana@gmail.com
Pura Goa Lawah
Desa Pesinggahan Kecamatan Dawan, Klungkung inilah sebagai pusat Pura Segara (pura laut) di Bali untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Laut. Dalam Lontar Prekempa Gunung Agung diceritakan Dewa Siwa mengutus Sang Hyang Tri Murti untuk menyelamatkan bumi. Dewa Brahma turun menjelma menjadi Naga Ananta Bhoga. Dewa Wisnu menjelma sebagai Naga Basuki. Dewa Iswara menjadi Naga Taksaka. Naga Basuki penjelmaan Dewa Wisnu itu kepalanya ke laut menggerakan samudara agar menguap menajdi mendung. Ekornya menjadi gunung dan sisik ekornya menjadi pohon-pohonan yang lebat di hutan. Kepala Naga Basuki itulah yang disimbolkan dengan Pura Goa Lawah dan ekornya menjulang tinggi sebagai Gunung Agung. Pusat ekornya itu di Pura Goa Raja, salah satu pura di kompleks Pura Besakih. Karena itu pada zaman dahulu goa di Pura Goa Raja itu konon tembus sampai ke Pura Goa Lawah.
Karena ada gempa tahun 1917, goa itu menjadi tertutup.
Keberadaan Pura Goa Lawah ini dinyatakan dalam beberapa lontar seperti Lontar Usana Bali dan juga Lontar Babad Pasek. Dalam Lontar tersebut dinyatakan Pura Goa Lawah itu dibangun atas inisiatif Mpu Kuturan pada abad ke XI Masehi dan kembali dipugar untuk diperluas pada abad ke XV Masehi.
Dalam Lontar Usana Bali dinyatakan bahwa Mpu Kuturan memiliki karya yang bernama ”Babading Dharma Wawu Anyeneng’ yang isinya menyatakan tentang pendirian beberapa Pura di Bali termasuk Pura Goa Lawah dan juga memuat tahun saka 929 atau tahun 107 Masehi. Umat Hindu di Bali umumnya melakukan Upacara Nyegara Gunung sebagai penutup upacara Atma Wedana atau disebut juga Nyekah, Memukur atau Maligia. Upacara ini berfungsi sebagai pemakluman secara ritual sakral bahwa atman keluarga yang diupacarai itu telah mencapai Dewa Pitara. Upacara Nyegara Gunung itu umumnya di lakukan di Pura Goa Lawah dan Pura Besakih salah satunya ke Pura Goa Raja.
Pura Besakih di lereng Gunung Agung dan Pura Goa Lawah di tepi laut adalah simbol lingga yoni dalam wujud alam. Lingga yoni ini adalah sebagai simbol untuk memuja Tuhan yang salah satu kemahakuasaannya mempertemukan unsur purusa dengan predana. Bertemunya purusa sebagai unsur spirit dengan predana sebagai unsur materi menyebabkan terjadinya penciptaan. Demikiankah Gunung Agung sebagai simbol purusa dan Goa Lawah sebagai simbol pradana. Hal ini untuk melukiskan proses alam di mana air laut menguap menjadi mendung dan mendung menjadi hujan. Hujan ditampung oleh gunung dengan hutannya yang lebat. Itulah proses alam yang dilukiskan oleh dua alam itu. Proses alam itu terjadi atas hukm Tuhan. Karena itulah di tepi laut di Desa Pesinggahan dirikan Pura Goa Lawah dan di Gunung Agung dirikan Pura Besakih dengan 18 kompleksnya yang utama. Di Pura itulah Tuhan dipuja guna memohon agar proses alam tersebut tetap dapat berjalan sebagaimana mestinya. Karena dengan berjalannya proses itu alam ini tetap akan subur memberi kehidupan pada umat manusia.
Pujawali atau piodalan di Pura Goa Lawah ini untuk memuja Bhatara Tengahing Segara dan Sang Hyang Basuki dilakukan setiap Anggara Kasih Medangsia. Di jeroan (bagian dalam) Pura, tepatnya di mulut goa terdapat pelinggih Sanggar Agung sebagai pemujaan Sang Hyang Tunggal. Ada Meru Tumpang Tiga sebagai pesimpangan Bhatara Andakasa.
Ada Gedong Limasari sebagai Pelinggih Dewi Sri dan Gedong Limascatu sebagai Pelinggih Bhatara Wisnu. Dua pelinggih inilah sebagai pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Basuki dan Bhatara Tengahing Segara.
sejarah pura GOA LAWAH, berita pura, jenis-jenis pura, babad pura gua lawah, sejarah pura goa, sejarah desa pesinggahan klungkung bali, penobatan raja klungkung, jenis jenis pura yang terdapat di pura goa lawah, discribe mount agung, cerita tentang wisata budaya goa lawah dengan bahasa bali
Jalan jalan murah di Bali, liburan murah di Bali,
paket wisata murah, tour murah di Bali
Hubungi kami :
Timbul Bhuana Tours
Lisence No. : 551.21/1210/KPPT
Jalan Kapten Sujana No. 1 Blahbatuh-Gianyar-Bali-80581
Email : timbulbhuana@gmail.com
PURA BESAKIH, PURA TERBESAR DI BALI
Kata "Besakih" berasal dari kata "Basuki" yang berarti 'selamat' berkembang menjadi Basukir dan Basukih, trus menjadi Besakih. Nama tersebut terdapat dalam 2 prasasti yang disimpan di Gedong Penyimpenan di Natar Agung, sebuah prasasti di Merajan Selonding dan sebuah lagi di Pura Gaduh Sakti di desa Selat. Sejarah Pura Besakih berhubungan dengan perjalanan Sri Markandeya (seorang Brahmana Siwa) dari Gunung Raung, daerah Basuki, Jawa Timur. Rombongan beliau terpaksa kembali ke Jawa karena banyak yang meninggal terserang penyakit. Setelah mendapat petunjuk di Gunung Raung, beliau kembali ke Bali dan mengadakan penanaman Panca Datu (5 jenis logam yaitu emas, perak, besi, tembaga dan permata) di lereng Gunung Agung yang kemudian dikenal dengan Pura Basukian.
Pada zaman dahulu, Pura Besakih langsung ditangani oleh penguasa daerah Bali. Disebutkan Sri Wira Dalem Kesari yang membuat Merajan Selonding (sekitar tahun 250 M), kemungkinan beliau adalah Raja Kesari Warmadewa yang memerintah sekitar tahun 917. Prasastinya terdapat di Malet Gede, di Pura Puseh Panempahan dan di Belanjong. Pada zaman pemerintahan Sri Udayana Warmadewa, pura ini mendapat perhatian besar, seperti terdapat dalam prasasti Bradah, dan prasasti Gaduh Sakti. Dalam lontar Jaya Kesunu disebutkan Raja Sri Jayakesunu memerintahkan memasang penjor pada Hari Raya Galungan sebagai lambang Gunung Agung. Pada zaman Sri Kresna Kepakisan, seperti terdapat dalam lontar raja Purana Besakih tentang upacara, nama pelinggih, tanah wakaf (pelaba), susunan pengurus, tingkatan upacara diatur dengan baik.
Fungsi umum pura ini adalah sebagai tempat bagi umat Hindu untuk memohon keselamatan (sesuai dengan nama pura). Pada waktu Bhatara Turun Kabeh yang jatuh pada setiap Bulan Purnama sasih kedasa (bulan Oktober) setiap tahunnya, seluruh umat Hindu datang berduyun-duyun untuk menyampaikan sujud baktinya pada Tuhan. Di pura ini juga diadakan upacara Panca Wali Krama setiap 10 tahun sekali, dan yang terbesar adalah upacara Eka Dasa Ludra setiap 100 tahun sekali. Upacara Eka Dasa Ludra terakhir dilaksanakan tahun 1973, sayangnya saya belum lahir dan mungkin seumur hidup saya tak akan bisa menyaksikan upacara ini secara langsung. Terdapat 18 komplek pura yaitu :
Pura Pesimpangan
Pura Dalem Puri
Pura Manik Mas
Pura Bangun Sakti
Pura Ulun Kulkul
Pura Merajan Selonding
Pura Gua
Pura Banua
Pura Merajan Kanginan
Pura Hyang Haluh
Pura Basukian
Pura Kiduling Kreteg
Pura Batu Madeg
Pura Gelap
Pura Penataran Agung
Pura Pengubengan
Pura Tirtha
Pura Peninjoan
Selain ke-18 komplek pura tersebut, juga ada komplek Pura Padharman untuk pemujaan kelompok keturunan tertentu di Besakih. Komplek Pura Besakih sangat luas, dengan pemandangan Gunung Agung yang hijau, sangat indah. Kita benar-benar kagum dengan warisan leluhur kita serta semua anugerah Tuhan. Tempat ini benar-benar bagus untuk mencari ketenangan serta mendekatkan diri dengan Tuhan.
Jalan jalan murah di Bali, liburan murah di Bali,
paket wisata murah, tour murah di Bali
Hubungi kami :
Timbul Bhuana Tours
Lisence No. : 551.21/1210/KPPT
Jalan Kapten Sujana No. 1 Blahbatuh-Gianyar-Bali-80581
Email : timbulbhuana@gmail.com
Thursday
Tentang Tanah Lot
Sejarah Tanah Lot
Diceritakan dalam dwijendratattwa pada abad 15, dikutip dari buku “pura luhur tanah lot di sagara kidul”, penulis drs. Ngurah oka supartha:
Pada masa kerajaan majapahit di jawa timur, tersebutlah seorang bhagawan yang bernama dang hyang dwi jendra. Beliau di hormati atas pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran agama hindu dengan nama “dharma yatra”. Di lombok beliau disebut “tuan semeru” atau guru dari semeru, nama sebuah gunung di jawa timur.
Pada waktu beliau datang ke bali untuk menjalankan misinya pada abad ke 15, yang berkuasa pada saat itu adalah raja dalem waturenggong yang menyambut beliau dengan sangat hormat. Beliau mengajarkan dan menyebarkan ajaran dharma sampai ke pelosok-pelosok pulau bali dan banyak membangun tempat-tempat suci untuk membangun dan meningkatkan kesadaran spiritual dan memperdalam ajaran-ajaran agama hindu.
Disebutkan pada saat beliau menjalankan “dharma yatra” di rambut siwi, beliau melihat sinar suci dari arah tenggara dan mengikutinya sampai pada sumbernya yang ternyata adalah sebuah sumber mata air. Tidak jauh dari sumber mata air tersebut, beliau menemukan sebuah tempat yang sangat indah yang disebut “gili beo” ( gili artinya batu karang, beo artinya burung) jadi itu adalah sebuah batukarang besar berbentuk burung beo. Di tempat inilah beliau membangun tempat untuk bermeditasi dan melakukan pemujaan kepada dewa penguasa laut.
Beliau mulai menyebarkan ajarannya kepada penduduk setempat, yaitu yang berada di desa beraban dimana desa tersebut di kepalai oleh seorang pemimpin suci yang disebut “bendesa beraban sakti”.
Pada saat itu penduduk desa beraban menganut monotheisme. Dalam waktu singkat, ajaran dang hyang nirartha yaitu tentang agama hindu telah membuat para penduduk mulai meninggalkan ajaran monotheisme tersebut. Begitu pula sebagian kecil pengikut bendesa beraban mulai meninggalkannya, dan dia menyalahkan dang hyang nirartha atas hal tersebut. Kemudian dia mengumpulkan para pengikutnya yang masih setia dan memimpin mereka untuk mengusir dang hyang nirartha dari tempat tersebut. Dengan kekuatan spiritual yang dimiliki oleh dang hyang nirartha, beliau melindungi diri dari serangan bendesa beraban dengan memindahkan batukarang besar tersebut tempat beliau bermeditasi ke tengah lautan dan menciptakan banyak ular dengan selendangnya di sekitar batukarang sebagai pelindung dan penjaga tempat tersebut. Kemudian beliau memberi nama “tengah lod” yang berarti tanah di tengah lautan.
Akhirnya bendesa beraban mengakui kesaktian dan kekuatan spritual dari dang hyang nirartha, dan dia mulai mempelajari ajaran-ajaran yang di ajarkan oleh orang suci tersebut, hingga menjadi pengikut setia dan ikut menyebarkan ajaran itu kepada para penduduknya untuk bergabung mengikuti kepercayaan tersebut. Sebelum pergi, beliau memberikan sebilah keris suci dan sakti yang dikenal dengan nama “ki baru gajah” kepada bendesa beraba. Saat ini keris tersebut distanakan di puri kediri yang sangat dikeramatkan oleh segenap masyarakat dan diupacarai setiap hari raya kuningan dengan berjalan kaki 11 km pulang pergi menuju pura luhur pakendungan yang berlokasi 300 meter dari pura luhur tanah lot. Upacara piodalan di pura tanah lot setiap 210 hari sekali yakni pada hari “buda wage langkir” sesuai penanggalan kalender bali.
Sekilas tentang tanah lot
Obyek wisata tanah lot merupakan tempat wisata yang terkenal dengan pemandangan alam laut selatan bali dengan ombaknya dan tebingnya yang khas. Obyek wisata yang terkenal dengan panorama alam saat matahari tenggelam (sunset) ini terletak di desa beraban kecamatan kediri kabupaten tabanan. Tanah lot merupakan nama dari salah satu pura yang ada di kawasan obyek wisata ini, yang merupakan dang kahyangan berdiri tegak di atas pulau kecil di tengah laut pantai selatan bali.
Sebagai sebuah obyek wisata, tanah lot telah dikelola secara profesional yang dilengkapi dengan fasilitas parkir, public toilet, art shop, restoran, hotel, open stage, tourist information centre, dan fasilitas security dan safety. Dengan membayar tiket masuk (entrance ticket) seluruh pengunjung telah dicover asuransi kecelakaan. Begitu pula dengan layanan parkir, setiap kendaraan yang masuk ke wilayah tanah lot, dengan membayar retribusi parkir secara langsung sudah dilindungi dengan asuransi.
Obyek wisata tanah lot merupakan obyek wisata yang sangat ramai dikunjungi wisatawan domestik dan internasional. Dengan panorama alam yang indah dan nuansa sakral yang begitu kuat, tanah lot merupakan obyek wisata yang wajib untuk dikunjungi bagi wisatawan ke bali. Pemandangan khas laut selatan dengan ombak yang bisa disaksikan dari ketinggian tebing di atas 15 meter merupakan atraksi alam yang sangat mempesona dan mampu menahan pengunjung untuk tinggal lama dan selalu ingin datang lagi menyaksikan anugerah alam dan atraksi budaya yang tersuguhkan.
Tanah lot sangat menarik untuk dikunjungi. Di tanah lot kita menemukan alam bali yang terkenal di mancanegara ketika kita ingin menyaksikan alam dan budaya menyatu.
Informasi umum
Bagi seluruh pengunjung yang akan berkunjung ke obyek wisata tanah lot, dalam upaya memberikan pelayanan dan kenyamanan kunjungan anda, sebaiknya diperhatikan beberapa hal berikut ini :
* seluruh pengunjung obyek wisata tanah lot sebelum memasuki kawasan obyek wisata, harap membeli tiket masuk dan tiket parkir pada pos penjualan tiket (tiket gate) yang sudah ada.
* bagi para pengunjung harap tetap membawa tiket yang sudah dibeli untuk pengecekan pada saat memasuki kawasan obyek pada pos checking tiket.
* tiket yang sudah dibeli sudah termasuk jaminan asuransi kecelakaan pengunjung dan parkir.
* seluruh pengunjung tidak diperkenankan masuk ke dalam lingkungan seluruh pura yang ada di seluruh kawasan obyek wisata tanah lot.
* ketika ada acara ritual keagamaan, seluruh pengunjung diharapkan tertib, mengambil jarak yang cukup dengan acara prosesi dan tidak mengganggu jalannya upacara ritual.
* kawasan obyek wisata tanah lot adalah kawasan suci, maka seluruh pengunjung diharapkan berpakaian sopan, tidak berkata-kata kasar dan tidak melakukan tindakan yang tidak senonoh.
* kawasan obyek wisata tanah lot merupakan kawasan pantai laut selatan dengan ombak yang cukup besar. Maka para pengunjung harap berhati-hati dan mematuhi tanda-tanda larangan jika bermain di kawasan pantai.
* kawasan obyek wisata tanah lot adalah merupakan kawasan tertib membuang sampah.
* seluruh satwa dan tanaman yang ada di obyek wisata tanah lot dilindungi, seluruh pengunjung diharapkan ikut menjaga kelestarian alam dan lingkungan.
* jika butuh bantuan tentang informasi dan lokasi silakan hubungi staf operasional obyek wisata tanah lot pada tourist information desk
Tempat menarik
Tanah lot memiliki banyak tempat menarik untuk melakukan berbagai kegiatan yang berbeda dan menarik bagi pengunjung. Setiap pengunjung akan terpesona melihat langit kemerahan yang melingkupi pura ketika matahari terbenam, deburan ombak yang menghantam karang, panorama yang romantis, dan laut biru yang dalam sebagai latar belakang dari tanah lot.selain keindahan pura tanah lot, masih ada pura-pura lain yang bisa dilihat oleh pengunjung seperti pura batu bolong, pura batu mejan, dan pura enjung galuh. Sebagai tempat wisata favorit, tanah lot memberikan kenangan yang tak terlupakan diantaranya di :
Pasar seni
Obyek wisata tanah lot dilengkapi dengan fasilitas berupa pasar seni bagi para pengunjung yang ingin membeli berbagai jenis oleh-oleh khususnya oleh-oleh kesenian bali. Berbagai macam barang seperti baju, sarung/ kain topi, sandal, pernak-pernik/ perhiasan, lukisan, patung dan barang lainnya dengan style bali.
Sunset terrace
Sunset terrace merupakan salah satu tempat di areal tanah lot yang menyediakan tempat yang tepat untuk menciptakan suasana yang tak terlupakan saat sunset berlangsung. Dengan keindahan panorama, anda dapat menikmati makan pagi dan makan siang yang mewah. Anda dapat bersantai dengan ditemani makanan dan minuman favorit anda sekaligus menikmati panorama pura tanah lot ketika air laut pasang.
Batu bolong
Pura batu bolong berlokasi sekitar 100 meter di sebelah barat pura enjung galuh, tepatnya di enjung batu bolong di mana batu yang menjorok ke laut tersebut berlubang di tengahnya. Pura batu bolong merupakan tempat untuk memuja/memohon kepada tuhan untuk kesucian. Pura batu bolong merupakan tempat yang sering digunakan untuk menggelar upacara melasti.
Enjung galuh
Pura enjung galuh berlokasi berdampingan dengan pura jero kandang, tepatnya di enjung galuh, “njung” yang berarti batu karang yang menjorok ke laut. Pura enjung galuh didirikan untuk memuja/memohon kepada dewi kemakmuran, yaitu dewi sri shakti-nya dewa wisnu (manifestasi tuhan sebagai dewa pelindung).
Cultural park
Surya mandala merupakan salah satu tempat yang tepat untuk pagelaran kesenian, pameran, konferensi begitu pula untuk menikmati pemandangan dan bersantai. Pagelaran kesenian yang digelar tiap hari yakni, tarian kecak dengan tiket Rp. 50.000/orang.
Jalan jalan murah di Bali, liburan murah di Bali,
paket wisata murah, tour murah di Bali
Hubungi kami :
Timbul Bhuana Tours
Lisence No. : 551.21/1210/KPPT
Jalan Kapten Sujana No. 1 Blahbatuh-Gianyar-Bali-80581
Email : timbulbhuana@gmail.com
Wednesday
Pura Beji, Sangsit
Jalan jalan murah di Bali, liburan murah di Bali,
paket wisata murah, tour murah di Bali
Hubungi kami :
Timbul Bhuana Tours
Lisence No. : 551.21/1210/KPPT
Jalan Kapten Sujana No. 1 Blahbatuh-Gianyar-Bali-80581
Email : timbulbhuana@gmail.com
Tuesday
Dari Perancak Kisah Maharsi Dimulai
Pura Gede Perancak menjadi bukti, kali pertama Danghyang Dwijendra menginjakan di Bali, sebelum melanjutkan perjalanan suci ke berbagai tempat di pulau mungil ini.
Purancak atau Perancak, begitu nama desa yang berlokasi di pantai selatan pulau Bali bagian Barat ini. Kawasan yang masuk wilayah Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana tersebut memiliki sejarah penting terkait perjalanan seorang maharsi bernama Danghyang Nirartha, sepeninggal dari Brambangan (Blambangan) Jawa Timur, menuju tanah Bali.
Seperti banyak ditulis dalam kitab yang berkisah tentang Danghyang Dwijendra, selain dikenal banyak memberikan petuah pembelajaran tentang arti penting hidup, maharsi satu ini juga banyak menyinggahi tempat-tempat yang dikenal suci dan oleh masyarakat sekitar di tempat tersebut selanjutnya dibangun tempat-tempat suci. Dan, sejatinya pengembaraan di Bali di mulai dari desa yang kelak dikenal dengan nama Perancak.
Setelah berhasil menyeberangi Selat Bali, sembari menunggu kedatangan istri bersama putra putrinya yang ikut menyeberang ke Bali, sang maharsi kemudian berteduh di tepian pantai, tepatnya di bawah sebatang pohon ancak.
Nah, lokasi bekas tempat berteduhnya Danghyang Nirartha di bawah sebatang pohon ancak, kemudian dibangun sebuah tempat suci atau kahyangan yang disebut ”Pura Ancak”. Sedangkan kata Purancak konon berasal dari dua kata yaitu ”Mpu” dan ”Ancak”, sebagai suatu peringatan bahwa di bawah pohon ancak itu pernah berteduh seorang rohaniwan besar khususnya dalam bidang agama, Danghyang (Mpu) Nirartha. ”Lambat laun akhirnya tempat ini lumrah dinamakan Pura Perancak,” tutur Jero Mangku Nyoman Sena, Pamangku Alitan Pura Purancak.
Mengenai kisah perjalanan Danghyang Nirartha hingga tiba di Perancak, lebih jelas lontar dharma yatra Danghyang Nirartha ada menyebutkan, setelah beberapa tahun bermukim di Blambangan, terjadilah perselisihan, kesalahpahaman antara Cri Juru (Raja Blambangan) dengan Danghyang Nirartha. Cri Aji Juru (Dalem Juru) curiga kepada Danghyang Nirartha dan menuduh sang maharsi memakai guna-guna. Tuduhan ini timbul akibat bau keringat Danghyang Nirartha selalu harum seperti minyak bunga mawar, sehingga setiap orang yang duduk derdekatan dengannya turut berbau harum, sekalipun tanpa menggunakan minyak wangi.
Pancaran suci dan kharisma Danghyang Nirartha ternyata membuat seorang adik dari Raja Blambangan jatuh cinta pada rohaniwan ini.
Sebelum perseoalan melebar terlalu jauh persoalan terjadi sekaligus menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Danghyang Nirartha dengan mengajak istri dan 7 putra putrinya kemudian memilih berkemas-kemas hendak meninggalkan istana Blambangan dan menyeberang ke pulau Bali.
Pada suatu hari pada sekitar tahun icaka 14 atau tahun 1478 M menyeberanglah Danghyang Nirartha bersama sang istri Sri ratna Patni Keniten dan putera putrinya dengan melalui Segara Rupek (Selat Bali).
Tiba di pantai Blambangan atas bantuan seorang nelayan, beliau diberi meminjam perahu (jukung) yang kondisinya sudah agak rusak (bocor). Jukung dimaksud akhirnya diberikan pada istri dan putra-putrinya. Mengakali agar tak bocor, maka jukung ditutup dengan daun labu pahit pemberian warga Desa Manjaga.
Danghyang Nirartha sendiri memilih menyeberang lewat jalur lain menggunakan buah labu pahit yang isinya telah dibuang habis serta memakai tangan dan kakinya sebagai dayung dan kemudi. Tidak dikisahkan dalam pelayaran ini Danghyang Nirartha dengan selamat tanpa suatu halangan tiba di pantai Barat pulau Bali, dan ini adalah berkat bantuan labu pahit serta sudah kehendak Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Pada waktu masih di tengah lautan Danghyang Nirartha berjanji bahwa seumur hidup beliau tidak akan mengganggu hidupnya waluh (labu) pahit apalagi memakannya, dan hal ini harus diikuti oleh para keturunannya.
Oleh karena Danghyang Nirartha lebih dahulu sampai di pulau Bali ini, sambil menunggu istri bersama putera puterinya, maka beliau berteduh dibawah sebatang pohon ancak. Setelah istri bersama putera puterinya tiba, maka beliau beristirahat beberapa hari. Di Jembrana kala itu berkuasa seorang Anglurah bernama I Gusti Ngurah Rangsasa. Anglurah ini mengemong sebuah pura bernama Pura Usang.
Sekalipun telah ada Anglurah, ternyata kehidupan masyarakat di sini masih bersifat ’uraga pati’. Mereka masih dalam kegelapan, sukar mengendalikan hawa nafsu dan rendah budi pekertinya.
Melihat kenyataan seperti itu, maka sang maharsi memberikan berbagai petuah serta pemahaman akan arti kebajikan. Maka banyaklah datang warga yang hendak mendapatkan pencerahan tentang ajaran agama.
Mendengar berita ada maharsi memberikan pencerahan ajaran agama, Anglurah Rangsasa hatinya tergugah. Suatu hari dia mendatangi Danghyang Nirartha untuk diajak sembahyang di Pura Usang.
Rohaniwan ini tak hendak menolak, datanglah beliau ke pura milik I Gusti Ngurah Rangsasa dan hendak menghaturkan sembah. Baru saja Danghyang Nirartha mengatupkan tangan hendak mulai sembahyang, pura ini ternyata pecah.
Pecahnya Pura Usang sebagai pertanda kekalahan I Gusti Ngurah Rangsasa dalam berdiskusi dengan sang maharsi. Anglurah ini akhirnya mohon pamit dan memilih melanjutkan perjalanan hidup sebagai pertapa.
Sepeninggal I Gusti Ngurah Rangsasa sekaligus untuk menghormati jasa-jasa Anglurah ini selama berkuasa, maka masyarakat setempat membangun tempat suci diberi nama Pura ratu Gede Rangsasa.
Pasca sepeninggal I Gusti Ngurah Rangsasa, maka Danghyang Dwijendra bersama keluarga juga berpamitan pada warga hendak melanjutkan perjalanan melalui darat, di dalam hutan belukar yang luas (Jimbar Wana). Nah, sepeniggal maharsi dari tempat pertama kali berteduh, maka warga kemudian mengenang jasa-jasanya dengan membangun tempat suci yang diberi nama Pura Gede Perancak. ”Karena ada kaitan dengan perjalanan Danghyang Nirartha, maka pura ini berstatus dangkahyangan,” tunjuk peneliti beberapa pura di Bali, Ida Bagus Darmika.
Pura Purancak kini diempon 7 desa pakraman, di antaranya Desa Pakraman Perancak, Yeh Kuning, Dauh Waru, dan Batu Agung. Upacara keagamaan dilaksanakan tiap enam bulan (210) hari sekali, tepatnya pada hari Buda Umanis Wuku Medangsia.
Mengingat pangempon pura terdiri dari banyak desa pakraman, maka penanggungjawab setiap piodalan dilakukan secara bergilir. Sedangkan warga yang tak mendapat giliran cukup tangkil sembahyang ke Purancak. ”Sekalipun bergilir, banyak pula warga yang tak mendapat giliran ikut membantu memperlancar pelaksanaan upacara,” jelas Jero Mangku Sena. Termasuk para pamangku, mereka berusaha ngayah selama piodalan berlangsung. I Wayan Sucipta
Jalan jalan murah di Bali, liburan murah di Bali,
paket wisata murah, tour murah di Bali
Hubungi kami :
Timbul Bhuana Tours
Lisence No. : 551.21/1210/KPPT
Jalan Kapten Sujana No. 1 Blahbatuh-Gianyar-Bali-80581
Email : timbulbhuana@gmail.com